Applying Canada Visa

Awalnya, saya merasa apply Visa Canada ini agak ribet dan aneh tapi ternyata setelah dijalani begitu mudah. Memang sebelum apply ada banyak “pendahuluan” yang harus dibaca jadi sedikit membingungkan.

Untuk apply via online melalui alamat website berikut http://www.cic.gc.ca/english/e-services/account.asp. Saya pilih yang “Continue to GCKey” karena tidak menggunakan credit card yang ber-partner dengan yang disebutkan oleh Canada.

Awalnya saya mau apply manual tetapi saya pikir online lebih mudah (seperti UK & US) karena tidak harus print dokumen tapi ternyata setelah masuk sistem online diharuskan untuk scan (memang sebelumnya sudah dikasih tau jika harus punya akses untuk scan / camera). Nah tapi setelah saya baca-baca lagi, mereka menerima dokumen berupa JPG, DOC dan PDF yang artinya mau menerima dokumen foto. Karena saya ga punya printer/scan dan males ke bank untuk minta bank statement (haha, jangan ditiru ya), jadi semua dokumen & paspor dan yang sudah ada visa & stamp, buku bank saya foto kemudian bikin word dan dijadiin PDF. Hehe… Alhamdulillah mereka tidak masalah lho ternyata..

Tapi menurut saya jika Anda lebih siap lebih baik ya.. Siapkan kelengkapan dokumen dan beberapa harus sudah di-scan seperti :

  1. Application Form (Ini bisa langsung diisi dan di-save kemudian di-upload, jika file PDF-nya tidak compatible dengan yang ada di computer Anda, tenang saja mereka menyediakan software-nya untuk bisa kita download, keren kan?)
  2. Form Family Information yang dapat diunduh dan diisi langsung juga
  3. Travel History (Ini berupa semua riwayat perjalanan travelling kamu, semua stamp dan visa yang ada di paspor)
  4. Passport (Halaman berfoto dan tanda tangan)
  5. Proof of Means of Financial Support (Bank statement, buku tabungan, mereka memberikan keterangan bahwa sebaiknya untuk bukti keungan selengkap mungkin seperti employment letter, dll tetapi saya hanya memasukkan buku tabungan dan tidak masalah)
  6. Digital Photo ukuran sama seperti visa-visa lain
  7. Purpose of Travel (Dikarenakan saya mendapatkan Invitation Letter jadi saya masukkan saja langsung, untuk Anda mungkin bisa ceritakan mau apa di Canada, berapa lama dan sebagainya)

Semua dokumen di-upload satu persatu kemudian bayar fee visa melalui kartu kredit, setelah itu all set and done. Pengalaman saya, saya daftar hari Sabtu dan hari Senin saya langsung mendapatkan Letter of Passport Request yang artinya saya disuruh mengumpulkan paspor saya ke kantor agent yang bekerjasama dengan Kedutaan Canada. Karena saya sedang tinggal di Turki, saya mengumpulkan paspor melalui VFS. Nah, di kantor VFS ini lumayan kecil dan sepi dibandingkan dengan VFS khusus untuk negara-negara Eropa dan Italy (Italy sebelumnya di iData Ankara Turkey namun sekarang pindah). Di VFS Eropa yang terdapat puluhan negara itu selalu ramai orang tapi disini hanya ada beberapa orang. Saya pun tidak perlu antri dan kemudian langsung dipanggil. Saya jaga-jaga membawa beberapa dokumen tetapi yang diminta hanya Letter of Passport Request tadi dan Paspor. Tidak perlu foto dan dokumen-dokumen tebal seperti negara lain. Prosesnya pun tidak makan lama. 3 hari akan dibalikkan paspor-nya. Canggih ya!

P:S : Sayangnya setelah jadi tidak ada foto di visa meskipun foto-nya di-upload di apply online.

canada

Semoga infonya membantu.

See you on another story,

 

 

Applying UK Visa

Tahun lalu tepatnya sekitar bulan Juni saya mendaftar visa UK untuk bepergian di bulan Juli. Saya sudah memperkirakan bahwa waktunya akan pas sebelum berangkat karena disebutkan bahwa proses visa 15 hari. Saya pun apply online, disini hanya berupa pertanyaan-pertanyaan saja yang harus dijawab seperti biasa. Untuk link-nya silahkan cek dimari

Lanjut bagian create account dan Anda akan menemukan link ini

Setelah semua apply online sudah diurus lalu kita harus membuat appointment di agent yang ditunjuk oleh pemerintah UK untuk menyerahkan aplikasi. Kalau di Turki di TLSContact di Sheraton Business Centre. Banyak dokumen yang perlu disiapkan, layaknya visa Schengen. Ini saya copy aja ya dari Web, hihi.. blogger males :0

When you apply you need to provide:

  • a current passport or other valid travel identification
  • evidence that you can support yourself during your trip, such as bank statements or payslips from the last 6 months

You need a page in your passport that’s blank on both sides for your visa. Your passport must be valid for the whole of your stay in the UK.

You’ll also need to provide a certified translation of any documents that aren’t in English or Welsh.

Other information you’ll need

You’ll need to provide the following:

  • the dates you’re planning to travel to the UK
  • details of where you’ll be staying during your visit
  • how much you think your trip will cost
  • your current home address and how long you’ve lived there
  • your parents’ names and dates of birth
  • how much you earn in a year

You might also need:

  • details of your travel history for the past 10 years (as shown in your passport)
  • your employer’s address and telephone number
  • your partner’s name, date of birth, and passport number
  • the name and address of anyone paying for your trip
  • the name, address and passport number of any family members you have in the UK
  • details of any criminal, civil or immigration offences you have committed

Yah pokoknya begitulah.. hehe. INGAT ya, semua dokumen yang dibawa itu HARUS ASLI, dokumen akan diproses dan kemudian dikembalikan (paspor, buku tabungan, buku nikah, dsb). Jika memang Anda merasa sedang memerlukan dokumen asli yang tidak mau dikumpulkan karena takut tidak dikembalikan lagi silahkan minta agen untuk copy dan kembalikan saat itu juga karena ada beberapa dokumen yang tidak akan dikembalikan seperti keterangan mahasiswa/ mungkin karyawan, invitation letter dan dokumen yg tidak saya sebutkan diatas. Proses visa UK benar-benar 15 hari dan mepet jadwal keberangkatan (denger dari yang lain juga katanya mepet), jadi usahakan jauh-jauh hari apply visa karena saya sempet gondok dan e-mail berkali-kali kok belum keluar-keluar, haha.. Sialnya di Turki juga waktu itu sedang hari besar jadi seharusnya dokumen selesai hari Selasa tapi saya baru bisa ambil hari Jumat dan Sabtu langsung berangkat. hiks..

Ketika sedang dalam proses mendaftar, tiba-tiba juga heboh masalah Brexit dan saya malah jadi ingin mengurungkan diri dan berharap visa ditolak, karena hebohnya berita tentang diskriminasi terhadapa orang Asia. FYI, ini travelling saya pertama kali setelah punya anak jadi udah agak grogi juga apply visa J.

Yang paling saya ingat adalah ada pertanyaan seputar Travel History, apakah Anda pernah ke negara-negara seperti Australia, USA, Schengen area, Canada dan New Zealand. Dari sini saya berpikir sepertinya kalau bisa dapet salah satu visa diatas jalan untuk kemana aja lebih mudah ya, dan lalu saya jadi kepingin mendapatkan semua visa itu hehehe..

Nah, padahal saya sudah mempersiapkan foto yang cantik di studio ternyata di Visa Application Center kita difoto langsung disana dan cap biometri, saya pikir ruangan selanjutnya itu wawancara (karena memang ada interview room), saya sudah menunggu beberapa menit rupanya urusan sudah selesai dan anehnya saya tidak mendapatkan kertas untuk pengambilan jadi sewaktu saya ambil visa saya ngotot-ngototan sama bagian administrasi karena memang tidak dikasih apa-apa.

Lumayan denger beberapa cerita dari teman saya yang ditolak visa UK tapi saya ga tau penyebabnya apa padahal kalau dipikir berduit juga iya tapi ternyata tidak menjanjikan. Saya bukanlah orang yang banyak duit tetapi menurut saya travel history itu penting, karena sebelumnya di paspor saya sudah ada 2 Schengen visa yang semuanya mendapatkan invitation letter (Perancis untuk volunteer dan Italy untuk kursus bahasa) jadi memudahkan pengurusan visa. Jadi selagi masih muda, ayo travelling sebanyak-banyaknya! Kalau memang takut untuk apply ke negara-negara yg sulit ke negara-negara di Asia yang tanpa visa / yang visa-nya mudah juga bisa yang mungkin akan menjadi bahan pertimbangan bahwa kamu memang suka travelling :0

uk-visa-for-thai

Semoga infonya membantu.

See you on another story,

Icha Bilal

Applying US Visa

Bagi sebagian orang apply Visa ke US adalah momok yang menakutkan karena denger-denger banyak yang ditolak.

Well, gue pun agak sedikit deg-degan sih waktu itu. Beneran pas apply online itu ga ada persiapan sebenarnya, karena tiba-tiba iseng aja isi-isi data. Kebetulan masalah foto emang udah disiapin jauh-jauh hari, jadi tinggal upload aja.

Untuk apply online ada disini US gov.

Nah lebih baik persiapkan foto terlebih dahulu, bagi yang menggunakan kacamata ga perlu dipake ya karena tidak lolos standar, terus Contact Person di US dan Travel Arrangement juga disiapin disana siapa yang bisa dikontak tapi kalo tidak juga bisa jawa do not apply. Yang lain sih lebih banyak pertanyaan-pertanyaan standar yang jawabannya NO NO NO aja. hehe..

Nah setelah sign, submit and confirm terus atur jadwal appointment interview di kedutaan, ini link-nya interview.

Jujur awalnya heran kenapa malah dokumen yang harus dipersiapkan ga seribet visa Schengen yang ada booking hotel, tiket pesawat, asuransi, dkk tapi memang yang menentukan semua sepertinya wawancara.

And eng ing eng, entah mengapa Ankara begitu macet pada pagi hari itu. Gw stress di taksi karena udah jelas pasti telat. Si sopir dengan banyak akalnya puter arah sana sini demi mengejar dan akhirnya gw telat sekitar 20 menit, si sopir dengan baik hati mau menunggu apakah gw bisa diperbolehkan masuk. Rupanya boleh!! Karena gw dengan sotoy bawa tas, akhirnya gw nitip deh ke abang-abang jual jajan. Ingat hanya diperbolehkan membawa dokumen saja! No bag, no phone!

Sebelum masuk dicek security terlebih dahulu terus paspor diminta dan kita disuruh nunggu setelah itu disuruh cap sidik jari setelah itu tunggu lagi untuk wawancaranya. Waktu itu orang Turki lebih lama nunggu karena mungkin antrian berbahasa Turki kalau gw karena Bahasa Inggris jadi lebih cepet.

Pertanyaan mendasar:

  1. Which part of US will you visit?
  2. Have you ever been to US?
  3. What will you do there?
  4. Who support your financial expense?
  5. Where have you been to before US?
  6. What do you do for living?

Setelah gw jawab semua, dia minta tuh satu-satu dokumen yang dia mau liat sambil dia ketik-ketik. Setelah itu dia kasih kertas Congratulations!  dan dia bilang Good Luck!!

Gw sih masih sangsi dan ragu pas waktu itu beneran dapet apa ga, besoknya US Gov kasih email untuk ambil paspor. Gw dengan ga sabar lihat paspor eh beneran ada visa.. Hahaha.. Norak yes?

Abisnya agak absurd sih proses-nya ini cuman keuntungan-nya kita langsung tau kalau kita diterima atau ditolak dari pas wawancara ga digantung beberapa hari/minggu seperti yang lain.
Tips ya : kita harus jelas tujuan kesana mau apa, kalo jawaban untuk pertanyaan ini menarik dia, baru dia akan tanya-tanya selanjutnya dan minta dokumen. Kalau jawaban pertanyaan ini tidak menarik minat pewawancara kemugkinan tidak dilihat-lihat dokumen yang sudah kita siapkan.

So good luck buat yang mau apply Visa US!!

visa us

Visiting UK after Brexit and USA after Muslim Ban

Setelah berjibaku dg jetlag yg luar biasa parah kali ini 😂 

Oke disini gw mau sharing ya, kebetulan gw selalu dihadapkan dg isu2 yg tdk enak sebelum travelling baik itu saat Pemboman di bandara Istanbul, isu Brexit, Kudeta Turki & Muslim Ban-nya Trump. Hal2 seperti ini yg bikin gw jadi memilih mundur untuk bepergian tapi apa mau dikata visa udah di tangan kan ga mungkin, sayang visa-nya kan..

Kebayang banget kan tahun lalu Turki lagi sedep2nya diserang bom apalagi terakhir yg paling serem menurut gw yaitu di bandara, karena bandara harusnya adalah tempat yg aman & saat itu gw lagi ajuin visa ke UK, belum kelar masalah bom ditambah lagi isu Brexit yg katanya bikin diskriminasi ke imigran, termasuk Muslim. Ada temen bilang mereka diteriakin “Go Home”. Pengalaman gw disana, g ada masalah dg perjalanan ke London bahkan org London masih mau senyum ke gw, ramah2 juga, g ada kejadian yg spt di-share di sosmed (at least pada saat itu), sekarang sih udah g masalah yes malahan.Tapi begitu mau pulang, Turki malah mau dikudeta ya gara2 ini jadi di-cancel pesawat & harus extend 2 hari 😫, mayan sih bisa ke Oxford akhirnya.

Pengalaman ke2 yaitu ke US, sebenarnya sempet ragu mau kesana dg kemenangan Trump tapi terlanjur apply visa dan udah dapet. Dan ternyata berulah juga itu si Trump pake nge-ban2 segala! Gw apply waktu masih Obama & denger2 banyak yg ditolak setelah Trump Muslim Ban Executive Order.

Serius waktu itu gw stress bgt tapi lagi2 ga mungkin mundur karena emang ada acara dan visa pun cuman dapet yg 6 bulan. So, gw cari info sana sini dan katanya Indonesia tidak bermasalah! Meskipun tidak bermasalah tapi tetep was2 juga yes, sampe ada yg nasihatin buat lepas hijab 😏 sama aja keleus paspor & visa juga udah pake hijab. Ada juga yg bilang sosmed diperiksa. Gw hapus semua yg berbau2 politik dan log out semua sosmed gw dan jaga2 pake hijab ala turban waktu di bandara. Eh ternyata banyak orang pake hijab biasa & bahkan pake cadar (tapi dibuka cadarnya pas di imigrasi untuk proses identifikasi). Alhamdulillah di JFK tidak seketat yg dibilang orang2, memang sebelumnya dibilang bakalan ketat karena situasi kemaren2 tapi ternyata tidak ada pemeriksaan apa2 sampe gw juga bingung sendiri. Sama pihak imigrasi cuman ditanya mau apa disana dan berapa lama, scan jari & foto aja.

Pemeriksaan ketat ada di bandara asal. Di Turki paspor gw dicek 4x, ditanya macem2 mau apa, berapa hari, dkk terus seluruh badan di scan, udah itu aja (hal ini tdk pernah terjadi sebelum2nya ketika travelling ke negara lain dari Turki). Denger2 sih skrg ketatnya di bandara asal / bandara transit biar kalo mau pulangin ga kejauhan & mahal. 

Ketika gw di DC juga lagi ada demo di depan White House tetapi mereka tidak mengganggu, dan tidak ada kerusuhan, mereka sangat tertib hanya teriak2 aja No Ban, No Wall, dsb.

So, sekali lagi g ada masalah utk Muslim ke US, at least itu pengalaman gw. Menurut gw orang US itu malah ramah2, mau menyapa “Hi, Good Morning”, mereka jujur kalo dia suka apa yg kita pake, ya karena mereka sering muji sepatu yg gw pake 😂😂 “I like your shoes”, “Your shoes are great”, karena gw pake sepatu gambar New York 😂😂. Mereka juga informatif dan helpful banget. Mereka ga segan kasih kita info tanpa diminta kalo kita terlihat kebingungan. Pernah waktu di subway kita lagi kebingungan tanpa ditanya dia kasih info, pun juga ketika lagi celingukan cari2 library mereka langsung nanya cari apa? Bukan disini tempatnya, itu yg di sebelah. 

Ada yg bilang di NYC banyak yg suka mabuk di subway, so jaga2 aja ga usah pulang malem. Tapi kata orang yg udah tinggal 20 tahun disana, orang mabuk ga mengganggu kok. Banyak orang Indonesia yg udah tinggal disana ga mau balik. Karena apa? Katanya disana itu ketenangan terjamin, jaminan sosial nya jelas, orang ga bisa berbuat kriminal seenaknya, langsung dihukum bahkan anak presiden George W. Bush bermasalah pun ditangkap kalo di negara kita? Hmm, tau sendiri.. Katanya cari kerja asal mau kerja apa aja itu pasti ada dan negaranya aman walau malam2. Itu kata mereka lho ya bukan kata gw yg baru beberapa hari disana 😂

Yg paling penting memang tetap waspada, jangan terlalu heboh & girang 😂, banyak2 juga baca doa 😇. Semoga bermanfaat.

See you on another adventure story,

Icha Bilal

Travelling Survival Tips for Muslim

Sekarang sih udah banyak ya wanita berhijab travelling ke luar negeri dan tidak ada masalah. Tapi jujur aja dulu memang ada kekhawatiran karena waktu pertama kali gw memutuskan untuk berhijab malah dikasih ke Perancis 😂. Tidak ada masalah, memang sempet ada tatapan nanar sedikit dari si bule tapi tidak begitu bermasalah. Ada juga temen yg pake hijab khawatir banget mau ke Perancis dan nanya macem2, apakah dia bakal ditolak di imigrasi, di hotel dan di tempat2 lain, dan gw jawab ga ada masalah. Mungkin utk yg mau jaga2 bisa pake turban dan syal, kalau memang khawatir sekali. Saya juga pernah tapi setelah melihat situasi aman saya pake hijab biasa lagi. Oke kalau ini sekedar tips aja, tau sendiri kan di Western itu toilet g ada air dan kita harus hati2 dengan makanan halal misalnya. Jadi berikut tips dari gw..

Survival Tips buat yg Muslim ketika Travelling ke Western :

1. Lebih baik pergi setelah sholat dhuhur atau pergi dari pagi dan balik sebelum sholat ashar berakhir, tapi ada juga masjid di jalan / multifaith prayer room. Syukur2 kalo buat cewe lagi halangan 😂

2. Banyak makanan halal kok dimana2, di NYC itu tiap spot hampir ada, di London juga banyak, kalo di Eropa cari resto turki / maroko itu banyak bgt, kalo ga nemu ya pilih ikan / sayur / buah / roti bawa sendiri. Biasanya gw emang bawa bekal / bawa roti buat sumpel perut 😬

3. Bawa botol kosong / gelas plastik kosong buat cebok!! Males banget kan ga ada air 😪 masih ga abis pikir sih mereka kok bisa yak, apa ga bau 😜

4. Buat yg berhijab, ga ada masalah dg hijab. Kadang buat jaga2 pake turban waktu di airport (yg sebenarnya tdk menjadi masalah besar, Alhamdulillah belum pernah disuruh lepas sih). Selebihnya sih pake krudung normal ajahh ☺️

Semoga info-nya membantu 😘

This is Halal Food


See you on another adventure story,
Icha Bilal

Georgia Trip

Ga pernah disangka dan direncanakan buat pergi ke Georgia. Negaranya pun kurang familiar dan ga paham-paham banget tapi ada suatu kejadian kenapa kita bisa kesini.

Ya, kenapa kita ke Georgia?

Alkisah, anak saya telat bikin janji untuk bikin Resident Permit. Pas pertama kali datang sesuai janji ada dokumen yang kurang dan si petugas bilang anakmu harus keluar nih, tapi pas lihat visa si bocah ternyata yang 1 tahun dibilang “Oh ya ga masalah jadi kalian lengkapin dokumen aja”. Waktu itu kita harus bikin surat keterangan keluarga di KBRI dan surat catatan sipil di kecamatan Ankara, sebenarnya hari itu juga udah jadi dokumen-nya dan aku bilang kita balik aja kesana lagi karena aku lebih suka urusan kelar semua jadi bisa santai, tapi kata suami capek dan bilang Senin aja. Yaudah..

Hari Senin kita datang dan sebenarnya si bocah udah disuruh bayar untuk kartu ijin tinggal yang artinya sebentar lagi kelar dan ga ada masalah. Tiba-tiba entah darimana datang si supervisor dan lihat si petugas lagi ngurus data si bocah dan si supervisor berubah jadi nenek lampir dan bilang “Ini anak harus keluar dari Turki dulu untuk bayar denda baru bisa bikin ijin tinggal!”. Suami saya datang ke petugas lagi dan tiba-tiba dimarahin “Kamu bohong ya, anak kamu harus keluar dulu dari Turki, kamu telat bikin janji seharusnya 10 hari setelah masuk Turki langsung bikin, uangnya dituker lagi aja. Allah Allah”.

Hiks… hiks… hiks.. Hancur hatiku, hayati lelah… hiks… Kalau yang bermasalah suami kan biar dia aja yang pergi ini bocah umur 2 tahun mau pergi sendiri kan ga mungkin!

Sialnya kita ga dapat petugas yang sebelumnya nanganin suami saya yang baik hati dan cuek padahal beda 1 nomor antrian kita bakalan dapet itu petugas. Memang belum rejeki. Akhirnya pulang ke rumah, kita pelajari Negara mana yang bisa dikunjungi dalam waktu dekat dengan VoA atau E visa. Sayangnya paspor kita yang sangat multifungsi (haha) tidak banyak diterima di Negara-negara yang berdekatan (dan yang jelas).

Kebetulan lagi ada temen dan dia bilang ya paling deket Georgia tapi E-visa keluar 5 hari kerja atau Armenia yang bisa VoA. Awalnya aku bilang Jordan aja bisa sekalian ke Petra, pas udah kabarin temen dan tanya-tanya ternyata mahal banget Jordan. Mata uang seperti UK, tiket pesawat udah seharga pulang Indonesia. Karena ga tau apa ada temen yang pernah ke Armenia dan ga yakin kalo VoA akhirnya kita memutuskan untuk ke Georgia. Awalnya kita mau jalan dari Trabzon terus lewat perbatasan ke Georgia tapi kita tanya ke temen yang pernah ke Georgia mending dari bandara bayar dendanya dan katanya lumayan disana juga bagus. Akhirnya kita cek cara bikin visa saat itu juga dan memang 5 hari kerja. Jadi akhirnya kita langsung bikin E-visa dansekitar tanggal 2 Januari baru dapet. Untuk apply visa ada disini.

Karena suami udah di Istanbul, aku berangkat dari Ankara berdua aja sama si bocah naik kereta. Ternyata stasiun kereta di Ankara udah dibuka yang barunya dan baguuuus banget, makin canggih deh pokoknya. Di kereta si bocah tidur selama 3 jam jadi ga rewel, anteng. Di perjalanan bagus banget karena salju lagi tebal-tebalnya jadi putih semua. Pas sampe Istanbul, kita langsung menuju airport. Pas di airport kita bayar denda, awalnya cuman sekitar 100TL terus kita masuk imigrasi eh ternyata ga kebaca di sistem, kita dijemput sama petugas dan disuruh masuk lagi ke bagian imigrasi dan ternyata yang bener dendanya sekitar 200TL. Tapi akhirnya kita malah dimasukkin di imigrasi bagian diplomatic, hihi.. cepet deh..

Bener-bener aku ga tau apa-apa tentang Georgia dan ga browsing sama sekali. Sempet liat YouTube tapi ga sampe tuntas. Kayanya “let’s see” aja waktu itu motto-ku.

Sampai Tbilisi, kok dari atas negaranya kaya gelap ga begitu banyak lampu ya. Waduh! Terus pesawat yang ada di Bandara juga dikit banget, pas masuk sekali 2 eskalator jalan langsung imigrasi jadi kecil banget bandaranya. Pas kita antri rupanya kita salah loket, kita harus ke loket yang di ujung. Kita ditanya macem-macem, mau ngapain, darimana, ada ijin tinggal ga di Turki, dsb. Sampe dipanggilin supervisor juga. Tapi akhirnya kita bisa masuk juga malah ditawarin wine tapi ga kita ambil. Dan benar saja bandaranya cuman sekotak, kecil pokoknya. Kita tuker uang terus cari taksi di depan, kita nanya alamat homestay kita dan ga tau mereka ngomong bahasa apa dan katanya 50 uang Georgia. Padahal udah nanya ke orang di money changer sama bapak-bapak Turki yang sering kesana sekitar 30 aja. Yaudah apa boleh buat ga ada pilihan.

Kita sebenarnya udah takut kalau Georgia itu lebih dingin ternyata malah lebih hangat. Ankara -7, di Tbilisi malah 7 derajat aja. Dari bandara ke tempat kita tinggal lumayan agak jauh dan di jalan ga ada apa-apa, suasana sepi banget. Orang Georgia sepertinya sangat religious karena setiap lewat gereja selalu menyilangkan tanda salib ke dadanya.

Karena kita sampe jam 00.00 jadi udah sepi dan gelap. Kita dianterin ke homestay kita bahkan ditelponin sama si sopir taksinya, dicek dulu rumahnya bener apa ga, dibantu bawa koper dan ditungguin si ibu keluar. Si ibu keluar dan si sopir baru ninggalin kita, pas awal masuk depan apartemen dia kaya serem gitu, kaya rumah kuno yang udah rusak dan langsung aja takut seketika tapi begitu masuk rumahnya ternyata rumahnya besar dan kamarnya pun bagus dan luas. Dia kasih lihat kamar mandi dan kamar mandi-nya bagus dan bersih banget, haha.. homestay kita ini di tengah kota jadi lumayan bisa lihat pemandangan sungai dan menara sutet. Si ibu bilang Ni Angliski Ni Turki, Ruski Ruski. Oh brati dia ga bisa Bahasa Inggris atau Turki cuman Rusia aja, jadi pake bahasa tubuh aja, haha. Aku inget-inget lagi Bahasa Rusia yang aku pelajari di YouTube cuman inget Spasiba dipikir sama si ibu aku bisa padahal ga, haha..

Pagi-paginya kita dipanggilin tetangga si ibu Ejen yang bisa Bahasa Turki, syukurlah ada juga yang bisa kita tanya-tanya karena kita bener-bener buta sama ni kota. Banyakan temen-temen kita yang pernah kesini pada ke luar kota karena yang bagus diluarnya dan ada yang bilang Georgia ga ada apa-apanya jadi kita juga ga ekspektasi tinggi. Sebenarnya ada temen yang rekomendasikan ke Mount Kasbegi terus dibilang disana dingin karena salju dan aku bilang di Ankara juga udah dingin banget. Si tetangga bisa juga Bahasa Inggris jadi enak deh. Mereka telponin taksi untuk anter kita ke tempat angkot untuk ke Kasbegi tapi ternyata angkotnya ga ada yang jalan kesana hari itu. Akhirnya kita putuskan untuk jalan-jalan keliling kota aja dengan si pak sopir sampai jam 3 dengan bayar 60 Georgia Lari.

Si pak sopir ternyata baik hati, karena kita bilang Ruski Ruski dipikir kita bisa Bahasa Rusia alhasil dia ngomong mulu tuh sambil memandu kita, kita sih iya-iya aja sambil nebak-nebak. Haha.. ternyata Tbilisi kotanya cantik juga seperti di Praha suasananya. Kita dilewatin ke Parlemen, Euro Meydan dan terus ke Freedom Square. Kita naik ke atas bukit dan disana kita bisa melihat Tbilisi dari atas. Disini baru keliatan ada turis-turis tapi ga tau darimana. Herannya ada pengemis yang ngikutin kita dan bilan “Gimme Dubai Money”, nah lho mentang-mentang berhijab dan suami agak muka Arab dikira orang Dubai. Kita foto-foto bentar disitu dan lanjut keatas lagi ke tempat menara sutet. Ternyata disitu seperti Disneyland tapi versi kecil. Disini kita baru liat ada turis Arab beneran, haha kok dimana-mana ada ya? Terus juga ada orang India. Karena dari pagi belum makan kita beli roti dan kentang. Terus masih lanjut pergi lagi turun kebawah.

Si pak sopir entah darimana tau kata-kata “araba” yang di dalam Bahasa Turki artinya mobil dia bisa bilang “Saya tunggu kalian di araba, jangan lupa ya ini nomor araba saya”. Kira-kira begitulah.

Abis itu dia tawarin kita makin di mall, kita disuruh makan di Carrefour, nah makan apa coba disana, kita lebih milih makan di McD. Aku pilih burger yang ikan dan kentang aja, Bismillah aja karena ga tau Negara ini gimana-gimana kan. Disini toilet-nya pun tanpa air haha..

Setelah makan kita dibawa ke Holy Trinity Sameba. Wuah ternyata bagus banget, padahal kita udah bilang mau pulang aja tapi si pak sopir malah bawa kesini. Tapi ga sia-sia juga kita disini. Jadi ending-nya malah bagus. Di sebelah Sameba ini juga tempat tinggal presiden.

Oh ya di Tbilisi ini sepertinya orang-orangnya lebih banyak yang menggunakan mobil sendiri dan jarang yang pakai bis. Bisnya aja udah tua gitu, merk Isuzu warna kuning, jadul pokoknya. Dan kita juga ga lihat penampakan apakah ada Metro atau Tramway. Dimana-mana turis banyak yang pake taksi. Untuk ke Park yang diatas itu sebenarnya bisa naik  furnikuler dari bawah tapi agak serem juga sih kayanya.

Setelah selesai kita pulang dan istirahat, awalnya mau lanjut jalan sekitar sungai tapi capek. Setelah matahari terbenam, kita mau cari makanan Halal dan katanya ada makanan Turki, kita diantar sama cucu ibu Ejen. Ibu Ejen berinisiatif pakai Google Translate jelasin tentang cucunya. Si cucu lumayan lah bisa Bahasa Inggris, kita keluar rumah lewat pintu belakang dan kaget banget ternyata di belakang kaya New Town dengan konsep bangunan seperti Eropa, cantik dan bagus banget. Menurut cucunya disini memang bangunan yang direnovasi jadi seperti baru lagi. Pokoknya jadi baru keliatan disini bagusnya.

Ternyata resto Turki itu tutup dan akhirnya kita lihat McD lagi, tapi karena rame banget kita memutuskan jalan cari yang lain. Ga sengaja pas lihat rame orang ngantri di kedai kecil suami nemu resto Turki di belakangnya. Akhirnya kita disitu dan pesen Pide (Pizza ala Turki) dan Şiş Kebab (Sate ala Turki). Karena penasaran banget itu kedai bisa rame aku mau juga coba ternyata jualan donat tabur gula putih dan minuman seperti hot chocolate dan milkshake. Kita coba dulu 10 biji ternyata enak dan kriuk banget tuh donat akhirnya nambah lagi deh, hehe.. setelah itu kita foto-foto dan nikmatin pemandangan di New Town ala Europe-nya Tbilisi.

Tulisan Bahasa Georgia seperti tulisan Bahasa Jawa dan Bahasa India jadi lucu banget semua merk internasional seperti Zara, Carrefour, dsb ditulis juga dalam Bahasa Georgia-nya dan kata cucu si ibu Ejen Bahasa Georgia beda sama Bahasa Rusia, nah lho? Jadi daritadi si pak sopir ngomong bahasa apa?

Besoknya kita pagi-pagi banget berangkat dianter suami si ibu Ejen (tapi ada charge-nya hehe). Pas check-in ga ada masalah terus langsung keatas, sebelum imigrasi malah pemeriksaan dulu dan lumayan antri. Pas di imigrasi kita ditanya-tanya lagi mana ijin tinggal di Turki kok bisa baru masuk tanggal 5 terus pulang tanggal 6, ngapain kesini cuman 1 hari dan bla bla.. Mukanya galak banget lagi. Aneh juga terserah kita dong, kita cuman bilang nanti kita bakal kesini lagi.

Di pesawat, si bocah ngambek karena pesawat ga jalan-jalan dan sayap ga dibuka-buka dan seperti biasa dia ga mau pake safety belt. Sampai di Turki, kita kasih paspor si bocah dulu terus langsung ditelponin petugas, kalau bayi yang kena denda gimana, karena seharusnya kalau dewasa ga bisa langsung boleh masuk Turki selama beberapa hari. Kita masuk lagi ke kantor terus dicek macem-macem, di-photocopy paspor si bocah dan data-data lain. Akhirnya kita semua bisa masuk ke Turki lagi dan balik ke Ankara langsung bikin janji buat ijin tinggal si bocah. Semoga pengurusannya lancar ya..

Eh setelah dari Georgia ini, kita jadi tertarik ke negara-negara antah berantah lainnya.. Lumayan bisa tau tempat-tempat aneh yang kurang dikunjungin orang. Oh ya kita juga belajar Bahasa Rusia dari si pak sopir kalo Da itu Yes, Niyet itu No. Ada juga untungnya kan kalo kita jalan-jalan, ga melulu seneng-seneng tapi dapet pengetahuan. Eh siapa tau bisa jualan donat gurih itu di Indo? Haha… Dasvidanya Tbilisi

img_1432

img_1424

img_1523

img_1524

img_1597

img_1543

img_1547

img_1550

img_1551

img_1552

img_1553

img_1554

img_1575

img_1579

img_1440

img_1580

img_1585

img_1587

img_1588

img_1589

img_1590

img_1591

img_1592

img_1593

img_1594

img_1595

img_1450

img_1451

img_1452

img_1477

img_1482

img_1489

img_1490

img_1500

img_1521

img_1623

See you in another adventure story,

Icha Bilal

SwedenTrip (Delayed)

 

Dari bulan Juni aku dapat kabar  bahwa paper aku diterima untuk bisa dipresentasikan di Global Fashion Conference 2016 di Stockholm University pada bulan Oktober. Karena aku pulang Indonesia untuk riset, terbesit untuk bikin visa di Indonesia tapi suami bilang di Turki aja karena lebih murah asuransi dan proses lebih cepet.

Untuk pengurusan visa di Turki melalui VFS, bisa cek di website sini.

VisaSwedia adalah standar syarat-syarat Visa Schengen tapi yang beda dari Swedia kita harus mengisi formulir data keluarga karena waktu itu untuk conference jadi visa Business.

Untuk syarat-syarat bisa dilihat disini  dan download formulir disini.

Untuk menyerahkan formulir juga kita harus bikin janji terlebih dahulu dan karena janji jam 10-an aku harus bangun pagi untuk kejar bikin reservasi tiket pesawat dan asuransi. Sebenarnya agak kurang yakin untuk bisa lolos meskipun semua syarat udah sangat kuat dengan adanya Acceptance Letter dan Invitation Letter dari pihak Swedia karena resident permit saya udah hampir expired, tapi waktu itu mau coba aja siapa tahu bisa masuk Turki lagi via E-visa.

Pas ke VFS, udah rame banget rupanya memang semua Negara Eropa rata-rata bikin disitu. Aku menunggu giliran untuk yang Swedia. Ada kejadian lucu antara customer dan customer service yang adu mulut dan ga mau kalah. Kalau di Turki, CSO itu belum tentu ramah apalagi kalau tiap hari menangani customer yang banyak pasti mereka stress banget.

Tiba giliranku dan orangnya juga galak minta dokumen dikeluarin dari map tapi kasar banget caranya dan aku kurang paham Bahasa Turki-nya. Dia langsung nanya mau ngapain? Kamu disini sebagai apa? Bisa lihat resident permit? Dan jeng-jeng dia lihat mau expired dan dia telpon kedutaan Swedia untuk menanyakan apakah aku bisa apply. Akhirnya aku disuruh menunggu sebentar karena belum ada yang angkat telpon. Setelah beberapa menit menunggu tetap belum ada yang angkat, si petugas bilang nanti kamu kesini aja lagi karena belum diangkat, saya ga berani ambil keputusan untuk kamu, bawa aja dulu dokumen-nya.

Akhirnya aku ke pusat kota untuk melengkapi dokumen yang kurang seperti cetak buku tabungan dan terus kembali lagi ke VFS. Begitu sampai sana si petugas udah liat dan dia bilang tunggu bentar setelah itu baru aku dipanggil. “Kamu ga bisa daftar, karena resident permit kamu kurang dari 1 bulan, kalau kamu mau kamu perpanjang dulu baru bisa daftar”. Biasalah aku ngotot “Tapi ga mungkin appointment-ku untuk permit baru bulan Desember dan ini sangat penting untuk saya hadir di conference itu karena saya pembicara”. “Maalesef, ga bisa. Kedutaan Swedia ga mau terima”.

Hiks… hancur hatiku. Ditolak sebelum bertanding gara-gara Resident Permit mau expired! Sedih banget, lemes.. padahal udah direncanain jauh-jauh hari mau ke Norwegia dan Denmark juga. Untung belum beli tiket.

Sampai rumah aku kabarin professor, katanya dia mau bantu tapi ternyata tetep ga bisa karena registrasi-ku di kampus belum selesai karena aku agak terlambat untuk kasih Thesis Proposal. Sebenarnya bukan salahku juga karena aku udah tanya informasi ke institute katanya bisa kasih proposal pas registrasi, rupanya harus setidaknya dari bulan Mei karena prosesnya sangat lama. Jadi selama 2 minggu aku bolak-balik kampus.

Aku lapor ke panitia acara bahwa aku ga bisa apply dan mereka pun bingung “Bagaimana mungkin kan kami sudah kasih invitation letter?” dan invit itupun juga pake Bahasa Swedia lagi! Waktu itu aku iseng aja pingin me-lobby ke kedutaan Swedia dan aku e-mail-in itu invit. Beberapa kali aku e-mail, “Saya adalah representative dari Negara saya juga dan bla bla” tetep tidak bisa dan akhirnya aku nyerah.. Memang belum rejeki ke Negara Scandinavia padahal udah kebayang karena belum pernah ke Eropa Utara yang katanya Negara terbahagia.

Alhamdulillah panitia berbaik hati untuk memberiku waktu untuk presentasi online jadi aku bikin power point dengan voice recorder dan aku tetap dikasih certificate dan paper ku pun masuk ke conference proceedings. Bahkan dikasih kabar bahwa“Your presentation is outstanding. Everyone enjoys it because there are not many papers about Muslim Fashion especially in Western world”. Untuk paper proceedings bisa dilihat disini ya. Dan kabar baiknya lagi ada publishing company dari USA yang hubungin aku untuk publish paper-ku untuk dijadikan buku karena dia lihat paper-ku di conference ini.

Some things may not happen but some good things may still happen.

Hope I can visit you someday and taste the Swedish Meetball, hehe..

stockholm_final_cover

See you on another adventure story,

Icha Bilal